Arsitektur Tradisional Dalam Masjid Agung Jami Singaraja
ARSITEKTUR
TRADISIONAL DALAM MASJID AGUNG JAMI
SINGARAJA
oleh
Taofiqurrohman[1]
Pendahulan
Islam masuk di Bali masuk pada abab
14 masehi, masuknya islam di ini dari
pulau Lombok, Jawa, Madura dan Bugis. Masuknya islam pertama kali di Bali lewat
kekuasaan Raja Dalem Waturenggong pada pemerintahannya pada abad 14 yang
berpusat di Klungkung. Raja Dalem
Klungkung melakukan kunjungan ke Majapahit pada tahun 1480-1550 dari kunjungan
tersebut 40 pengawalnya diantranya muslim dan di perbolehkan tinggal di Bali
tanpa di perbolehkan mendirikan kerajaan islam hal ini juga berlaku di beberapa
wilayah lokasi di Bali diantaranya Jembrana, Buleleng, Denpasar, dan
Karangasem. Masing masing komunitas islam di Bali membutuhkan waktu cukup lama
untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan non sehingga dalam adaptasi tersebut
masyarakat muslim di Bali berakulturasi baik dalam bahasa, perilaku dan
mendirikan bangunan.
Bangunan bangunan yang berdiri
dibali memimiliki perpanduan seni atau budaya masyarakat yang datang ke bali.
Memandukan kebuyadaan lokal dengan yang ada di bali. Local genius terus dipakai oleh masyarakat. Khususnya dalam bangunan suci umat muslim
yang terlihat perpaduan seni dalam
sebuah bangunan suci adalah
Masjid Agung Jami Singaraja.
(Sumber Foto:TAOFIQ)
Pembahasan
·
Masjid
Agung Jami Singaraja
Masjid ini terletak di jalan Imam
Bonjol 65 Singaraja, Bali. Gaya arsitek masjid ini berbeda dengan masjid yang
ada di tempat lain ada beberapa gaya tradisional Bali dalam ornamen dan
bangunan yang di terapkan pada bangunan ini, seperti kori agung (pintu gerbang)
yang khas dengan pintu gerbang bangunan di Bali dan beberapa ukiran motif
bunga, menurut penjaga masjid tersebut “kori itu adalah pemberian keturunan
raja Buleleng yang bernama A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie
yang telah memeluk agama Islam yang sebelumnya ada di puri
Buleleng”. Pemberian kori tersebut dimaksutkan untuk mengalihkan pandangan
kepada masyarakat yang berbeda pandangan dari masjid keramat ke masjid jami. Masjid
ini dibangun tahun 1870an, yang di ketahui dalam masjid ini masih menyinpan data arkeologi yaitu al-quran yang
di tulis oleh A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie pada saat ia menjadi
maulaf. Pada masjid ini terdapat ornamen bunga diatas pintu masuk ke masjidnya Ornamen
ini memperkaya gaya pada arsitektur pada bangunan ini. Pintu masuk ke
ruangan ada empat buah terletak di utara dan selatan masing-masing sebuah,
sedangkan yang dua lagi ada di sisi timur. Bangunan masjid ini terdiri dari
ruang utama, aula, dan ruang sekretariat. Di dalam ruang utama terdapat dua
tiang soko guru, sedangkan di tengah ruangan juga terdapat empat buah tiang
berbentuk bulat sejajar dengan tiang soko guru tersebut. Pada dinding barat
terdapat mihrab dengan lengkunngan di atas dan disangga oleh tiang. Di dalam
mihrab terdapat jam berdiri di sudut selatan dan mimbar yang merupakan hadiah
dari raja Jelantik. Ruangan bertingkat dua yang dipergunakan sebagai aula pada
bagian bawah, sedangkan bagian atas dipergunakan sebagai tempat pendidikan anak-anak
(Madrasah Diniyah Awaliah). Di depan bangunan induk terdapat menara berbentuk
bulat dan ada jendela berbentuk persegi panjang dengan pelipit di atasnya.
Bagian atas dari menara berbentuk segi delapan dan terdapat ruangan dengan
lubang angin pada setiap segi tersebut. Pada masjid yang menjadi ciri khas dari
masjid ini ada beberapa bangunan dan benda yang mengadopsi gaya bangunan khas
bali di antaranya.
(sumber foto:
TAOFIQ)
·
Angkul – Angkul Masjid
Agung Jami Singaraja
Dalam
bangunan Masjid Agung Jami Singaraja ada beberapa bangunan tradisional bali,
bangunan itu berupa gapura. Gapura yang di Masjid Agung Jami Singaraja bernama
angku – angkul. Angkul – angkul adalah pintu masuk dalam rumah adat bali
bangunan ini memiliki atap yang menghubungkan kedua sisinya. Atapnya berupa
piramida dan juga mempunyai motif samblung pada kedua sisinya. Tetapi dalam
study kasus di masjid Agung Jami Singaraja pemberian kori tersebut adalah untuk
mengalihkan pandangan masyarakat dari masjid keramat ke masjid Agung Jami
Singaraja
·
Aling – Aling
Aling – Aling adalah tembok yang
biasanya terbuat dari batu dengan tinggi sekitar 150cm Aling - Aling adalah
pembatas antara angkul - angkul dengan pekarangan rumah maupun tempat suci.
Selain itu aling-aling juga digunakan sebagai pengalih jalan masuk
sehingga untuk memasuki rumah harus menyamping ke arah kiri dan saat keluar
nanti melalui sisi kanan dari arah masuk. Hal ini digunakan untuk menghalangi
pandangan ke dalam dari arah luar secara langsung sehingga dapat memberikan
privasi kepada pemilik rumah dan juga sebagai penghalang masuknya pengaruh
jahat/ buruk. Adanya aling-aling ini meningkatkan sifat ruang positip yang
muncul akibat adanya dinding pembatas yang mengelilingi rumah atau disebut
penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang yang di dalamnya terdapat
aktifitas dan kegiatan manusia. Sedangkan penyengker merupakan
batas antara ruang positip dan ruang negatif. Selain tembok sekarang ini
banyak yang menggunakan patung sebagai aling-aling.
(sumber foto:
TAOFIQ)
·
Motif
Samblung
Masyarakat
Bali sangat identik akan unsur Budaya. Salah satu unsur Budaya Bali yang
dikenal masyarakat adalah Seni Ukir, keberadaan Seni Ukir Bali yang berkembang
dalam kehidupan Masyarakat Bali sangatlah pesat ditandai dengan banyaknya
bangunan-bangunan rumah yang bermotifkan gaya Ukiran Bali, dan karya-karya Seni
yang lain dalam bentuk ukiran. Seiring dengan perkembangannya. Salah satu ukiran yang menarik hati
saya adalah ukiran yang ada di masjid
Agung Jami Singaraja terdapat beberapa motif ukiran dari khas bali salah
satunya adalah motif di atas pintu masjid dan pinggiran al quran yang di tulis
oleh A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie ukiran yang terdapat
pada al-quran dan bangun ini adalah patra samblung. Patra Samblung ide dasarnya diambil dari tanaman Samblung, yakni tanaman
menjalar dengan daun-daun yang lebar. Dalam pepatran tanaman samblung ini
dibuat berupa tanaman yang ujung-ujungnya menjalar dan melengkung harmonis.
Dalam bangunan tradisional Bali jenis pepatran ini menempati bidang-bidang yang
panjang karena polanya yang berulang dan memanjang.
Kesimpulan
Bali juga terdapat agama islam yang
berkembang pesat di beberapa daerah contohnya Singajara. Di dominnanya agama
hindu di Bali, islam masuk dan berkembang, dari perkembangannya islam
beradaptasi dengan lignkungan sekitar sehingga menciptakan akulturasi budaya ya
seperti bangunan, bahasa, perilaku. Contoh dari akulturasi dalam bentuk
bangunan adalah masjid agung jami, masjid ini bangun pada tahun 1870 dan yang
khas dalam arsitektur dalam khas bali di terapkan dalam bangunan ini seperti
kori, ornamen bunga dan al quran yang di tulis oleh A.A. Ngurah Ketut
Jelantik Tjelagie.



Post a Comment for "Arsitektur Tradisional Dalam Masjid Agung Jami Singaraja"
Post a Comment