Kajian Etnografi Pembuatan Kain Gringsing Desa Tenganan Pegringsingan


Kajian Etnografi Pembuatan Kain Gringsing Desa
Tenganan Pegringsingan


Oleh: Jofel E
Malonda (1401405020)


Program Studi
Arkeologi FIB Unud








A.    Pendahuluan


Sebelum dimulai pengantar tentang Desa Tenganan
Pegringsingan atau khususnya mengenai kain gringsing, akan dijelaskan dulu secara
singkat tentang etnografi. Etnografi secara gramatikal
dibentuk
dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethnos (rakyat) dan graphia
(tulisan/uraian).
Etnografi adalah
bagian dari etnologi yang merupakan ilmu yang membahas dasar-dasar kebudayaan
manusia, dengan mempelajari kebudayaan kehidupan dari suku bangsa. Etnografi
adalah bagian etnologi yang meliputi kegiatan pengumpulan data dan penggambaran
masyarakat serta kebudayaan suatu suku bangsa. Etnografi adalah metode yang
digunakan dalam mendokumentasikan dan mendeskripsikan realitas sosial yang ada.
Adapun ciri dari etnografi adalah bersifal holistik, melakukan deskripsi
mendalam dan analisa kualitatif dengan menjadi data murni dari sudut pandang
orang asli (bersifat emik). Beberapa cara umum yang biasa digunakan dalam
pengumpulan data dalam etnografi adalah dengan melakukan observasi partisipan
dan wawancara mendalam (deep interview).
Hal-hal yang ditulis di atas adalah sebagian kecil informasi mengenai apa itu
etnografi dan metode apa saja yang biasa digunakan dalam mengumpulkan data.


Salah satu objek kajian yang menarik untuk menerapkan
metode etnografi adalah budaya yang terdapat di Desa Tenganan Pegringsingan. Desa
Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa Bali Aga yang ada di Bali.
Desa ini memiliki potensi dalam aspek pariwisata, dilihat dari kekunoan desa,
sejarah desa, arsitektur bangunan desa, tradisi-tradisi, lingkungan dan juga
karya-karya kerjaninannya (handicraft). Kain grinsing merupakan salah satu handicraft asli yang dibuat oleh
masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan dan menjadi salah satu icon unik yang dihasilkan. Kain ini
telah digunakan sejak leluhur masyarakat desa ini masih ada dan hingga sekarang
kain tersebut masih difungsikan sebagaimana digunakan dulu. Kain Gringsing
digunakan oleh masyarakat asli saat dilaksanakan kegiatan adat atau
upacara-upacara adat lainnya. Setiap masyarakat wajib menggunakan kain
gringsing dalam menjalani kegiatan upacara, bila tidak pihak yang melanggar
akan dikenakan sanksi. Bila tidak sanggup memiliki atau membeli kain ini, boleh
meminjam oleh anggota desa lainnya.













(Gb.1.Foto gadis-gadis desa dalam menjalankan kegiatan
adat menggunakan kain gringsing)





Dalam masyarakat adat Desa Tenganan, kain gringsing
hanya digunakan saat menjalani kegiatan-kegiatan sakral, namun seiring dengan
perkembangan zaman, kain gringsing mulai dijadikan sebagai salah satu benda
dalam kegiatan komersial, dijual untuk wisatawan-wisatawan. Namun, nilai dan
penggunaan kain gringsing tetap sama seperti yang dulu oleh masyarakat Tenganan
Pegringsingan. Masyarakat desa asli banyak yang memiliki kain gringsing secara
turun-temurun. Kain yang ada pada leluhurnya diturunkan kepada keturunan
selanjutnya dan seperti itu seterusnya. Hal ini karena semakin lama kain
gringsing, semakin tinggi kualitasnya dan faktor lainnya adalah proses
pembuatan kain gringsing membutuhkan waktu yang sangat lamadan rumit. Kain ini
terdiri dari beberapa jenis bentuk dan ukuran serta motif hiasnya. Bentuk
upacara yang dilaksanakan juga mempengaruhi penggunaan jenis kain gringsing
yang digunakan saat menjalani upacara, serta ada beberapa jenis kain yang
berbeda yang digunakan oleh laki-laki atau perempuan.





B.     Jenis Kain
Gringsing


Seperti telah disebutkan di
atas bahwa kain gringsing merupakan kain yang dibuat oleh masyarakat asli
Tenganan Pengringsingan yang digunakan oleh semua masyarakat desa dalam setiap
tradisi ritual desa. Berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan kepada
beberapa narasumber, yaitu Bapak I Ketut Sudiastika sebagai salah satu Klian
Adat yang ada di desa berserta Ibu Ni Komang Andayani (istri dari Bapak
Sudiastika), bahwa nama gringsing berasal dari dua kata, yaitu gring yang berarti sakit dan sing artinya tidak. Jadi, secara
keseluruhan artinya tidak sakit, secara filosofi dari nama tersebut terkandung
kepercayaan atau keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan perlindungan dan
terhindar dari penyakit (penolak bala).


Kain gringsing
terdiri dari beberapa jenis bentuk dan motif. Berikut adalah jenis-jenis bentuk
kain gringsing:


1.     
Sanan
Empeg


2.     
Patlikur


3.     
Petang
Dasa


4.     
Wayang
Candi


Sedangkan dari
jenis motif dikatakan berjumlah 24 jenis, kata dari narasumber lain, Ibu
Suarjana. Namun, hanya sekitar 19 jenis yang dapat disebutkan, diantaranya
adalah:


1.     
Lubeng


2.     
Cemplong


3.     
Dinding
Ayih


4.     
Cakra


5.     
Henjegan
Siak


6.     
Gegonggangan


7.     
Wayang
Kebo


8.     
Wayang
Candi


9.     
Teteledan


10.  Batun Tuwung


11.  Pepare


12.  Kesitan Pegat


13.  Cecempakan


14.  Patlikur Isi


15.  Wayang Putri


16.  Wayang Dedari


17.  Dinding Siganding


18.  Yada


19.  Lanang


Dari keterangan di atas dijelaskan bahwa
cara membedakan jenis kain gringsing adalah dari melihat ukurannya dan motif
hiasnya.





C.    Bahan
dan Teknik Pembuatan


Membahas tentang
bahan pembuatan kain gringsing, semuanya berasal dari bahan alami dari material
penyusun kain hingga zat pewarna yang digunakan semuanya tanpa bahan kimia.
Berikut adalah bahan umum yang diperlukan dalam pembuatan kain gringsing:


1.     
Benang
dari kapas keling


2.     
Biji
kemiri


3.     
Arang
kayu


4.     
Daun
taum


5.     
Kulit
akar mengkudu


Teknik pembuatan kain
gringsing membutuhkan waktu yang sangat lama dan keahlian yang sangat tinggi.
Berikut adalah teknik pembuatan kain gringsing secara umum yang dijelaskan oleh
Ibu Suarjana:


1.     
Proses
pemintalan benang


Benang yang digunakan dalam pembuatan kain gringsing berbeda
dengan benang yang digunakan dalam membuat kain pada umumnya. Benang yang
digunakan untuk membuat kain gringsing berasal dari kapas keling, banyak
ditemukan di Desa Seraya, Karangasem. Keistimewaan kapas ini adalah memiliki
biji tunggal, tidak seperti kapas lainnya yang memiliki biji dempet.
Kapas yang sudah tua dijemur pada sinar
matahari. Lalu kapas dibersihkan, dipisahkan biji dan kotorannya. Setelah itu
kapas dipintal dengan tangan. Karena memintal menggunakan tangan (manual), hasilnya terkadang tidak rata,
ada yang memiliki ketebal dan ketipisan yang berbeda.













     (Gb.2. Benang yang sudah dipintal)





2.     
Proses
pewarnaan


Kain gringsing terdiri dari tiga warna,
yaitu warna putih kekuningan, hitam atau biru (indigo) dan merah yang memiliki
makna filosofi juga. Ketiga warna tersebut melambangkan tiga Dewa utama di
dalam ajaran Hindu, yaitu Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa) yang memiliki makna
keseimbangan, sesuatu yang diciptakan hendaklah dipelihara dan suatu saat akan
dilebur kembali dan mulai lagi dari awal, merupakan siklus yang diyakini. Warna
merah melambangkan Dewa Brahma (api), warna Hitam/Biru melambangkan Dewa Wisnu
(air) dan warna putih kekuningan melambangkan Dewa Siwa (angin).


a.  Tahap
pertama, proses warna dasar dari kain gringsing adalah warna putih kekuningan
yang diperoleh dari minyak kemiri yang dicampur dengan air abu. Minyak kemiri
didapatkan dengan cara dikupas dan ditumbuk sehingga menjadi tepung. Setelah
selesai, tepung dikukus lalu dibungkus, selanjutnya diperas dengan alat
pemeras. Dikatakan bahwa dibutuhkan










                             (Gb.3. Biji kemiri)    





banyak biji kemiri (±1000 biji) untuk
menghasilkan minyal sebanyak botoh bir dan semakin lama minyak kemiri disimpan,
akan semakin bagus kualitas dari minyak tersebut sebagai pewarna ataupun
pelengket warna lainnnya. Sedangkan untuk air abu didapatkan dari rembesan abu.
Arang didapatkan dari hasil bakaran kayu bakar yang dikumpulkan, diayak lalu
dicampur dengan air secukupnya, ditumbuk lalu dikeringkan. Diletakan di sebuah
wadah lalu diberikan lubang lalu diberikan air. Tetesan dari air tersebut yang
ditampung dan merembes ke bawah menjadi air abu. Semakin lama ditampung akan
semakin bagus air abunya, akan berwarna kekuningan. Barulah minyak kemiri dan
air abu dicampur. Setelah itu benang dimasukan ke dalam minyak kemiri yang
telah dicampur air abu di sebuah wadah. Setiap tiga hari sekali benang diangkat
dan dikucek, dibersihkan agar warna meresap secara merata. Hal ini dilakukan
secarang berulang sampai mencapai batas waktu satu bulan tujuh hari. Setelah
mencapai waktu tersebut, benang diangkat dan dijemur dengan cara diangin-angini
(jangan dijemur pada terik matahari secara langsung). Benang diputar setiap
harinya agar warna merata dan agar minyak tidak menetes di salah satu sisi. Hal
ini dilakukan kurang lebih selama dua minggu. Proses selanjutnya adalah proses
penghitungan benang dan mulai diberikan garis-garis untuk membuat motif yang
diinginkan. Setelah itu benang pada alat pengayinan dibuat garis-garis dengan
warna hitam dan perhitungan sesuai dengan motif yang diinginkan, lalu dilakukan
proses pengikatan. Proses pengikatan bertujuan untuk menentukan bagian-bagian
yang akan diberikan warna berbeda (kuning, biru dan merah), karena proses
pewarnaan pada kain gringsing dilakukan secara berkelanjutan dengan proses
celup. Ada dua jenis alat yang digunakan untuk proses pembuatan motif dengan
menentukan garis-garis, yaitu penganyinan
yang digunakan untuk mengukur bagian panjang dan telawah pakan untuk mengukur bagian lebar.







 





























(Gb.4. Penganyinan (kiri) dan telawah pakan
(kanan)





Benang diikat menggunakan tali rapia,
namun pada zaman dulu masyarakat menggunakan serat daun sebagai alat pengikat.
Serat daun dipercaya juga membantu dalam proses penyerapan minyak melalui
rongga-rongga dan penggunaan serat daun memiliki kualitas yang lebih baik, karena
tahan lama jika dibandingkan dengan plastik yang lebih mudah rusak. Namun yang
menjadi kesulitan dalam penggunaan serat daum sebagai pengikat adalah warnanya
yang tidak bisa dibedakan dalam menutup warna motif, tidak seperti tali rapia
yang bisa dengan sengaja dibedakan warnanya untuk menandakan bagian mana yang
berwarna kuning, hitam ataupun merah. Sehingga dulu agar bisa membedakan,
ikatan serat daun ada yang diperpanjang untuk menandakan suatu warna. Teknik
ikat ini yang menjadi salah satu ciri khas dalam pembuatan kain gringsing,
yaitu teknik double ikat (ikat berganda). Motif dibuat pada bagian yang
memanjang dan melebar secara terpisah namun diperlukan perhitungan dan
ketelitian yang sangat baik agar motif dan warna yang akan dibuat dapat
dipadukan menjadi satu secara seimbang.










  


                                              (Gb.5.
Pengikat menggunakan serat daun)





b.  Tahap
selanjutnya, adalah proses pewarnaan hitam/biru (indigo). Warna ini didapatkan
dari daun taum. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narasumber,
dikatakan bahwa daun taum banyak juga yang diambil dari wilayah sekitar
Kusamba. Pembuatan warna biru sendiri tidak dilakukan di Desa Tenganan, namun
dibuat di sekitar wilayah Candi Dasa, Desa Bugbug. Mengapa tidak dibuat di Desa
Tenganan juga tidak diketahui secara pasti, namun hasil wawancara dengan
narasumber mungkin karena bau yang dihasilkan sangat bau, mungkin menggangu
masyarkat desa ataupun wisatawan. Untuk warna sendiri proses perwarnaan
membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Warna biru juga akan mempengaruhi
perwarnaan selanjutnya, yaitu warna merah. Bila warna biru yang diproses bagus,
warna merah yang nanti akan dihasilkan juga akan bagus. Ada dua jenis motif
kain gringsing yang hanya menggunakan dua warna, yaitu motif wayang kebo dan
wayang putri yang hanya menggunakan warna hitam dan putih kekuningan.















                                          (Gb.6.
Kain gringsing dengan motif wayang kebo)





c.  Tahap selanjutnya adalah pewarnaan warna merah, yang merupakan tahap
pewarnaan terakhir. Warna merah didapatkan dari kulit akar mengkudu yang
dikeringkan lalu ditumpuk













 (Gb.7. Kulit kayu
mengkudu)





sampai menjadi tepung yang selanjutnya
direndam dengan air. Setelah itu benang kembali dimasukan ke dalam perwarna
tersebut dan direndam. Proses pewarnaan merah membutuhkan waktu yang lebih lama
jika dibandingkan dengan proses perwarnaan warna lain. Proses ini memakan waktu
sekitar semibilan bulan paling cepat. Benang direndam di dalam pewarna selama
tiga hari. Proses ini tidak boleh terlalu lama karena dapat merusak warna
birunya. Setelah itu benang diangkat dan dicuci, lalu dikeringkan dan disimpan
ke dalam lemari kayu selama tiga bulan. Hal itu dilakukan berulang kali
setidaknya tiga kali (sembilan bulan) minimal agar warna menjadi kuat. Proses
ini membutuhkan waktu yang sangat lama karena bahan yang digunakan adalah
alami, sehingga menunggu proses fermentasi warna alam yang lama. Pada zaman
dulu, proses ini bisa memakan waktu sampai tahunan. Dikatakan juga konon bahan
pembuatan warna merah didapatkan di wilayah sekitar, tetapi kualitas yang
terbaik ada di wilayah Nusa Penida. Secara spesifik narasumber kurang
mengetahui faktor apa yang menjadi sebab utama perbedaan kualitas dari bahan
tersebut, mungkin karena faktor tanah ataupun kapur (karst).












(Gb.8.
Proses perendaman warna merah)





Pemberian warna
merah adalah langkah terakhir dalam pemberian warna pada kain gringsing, karena
pada dasarnya kain gringsing hanya bisa menggunakan  tiga warna. Proses pewarnaan juga membutuhkan
kemampuan yang handal, karena dalam proses pencampuran dan pengolahan warna
terkadang ada takaran-takaran tertentu yang tidak memiliki ukuran pasti,
menggunakan spekulasi. Sehingga pengalaman dan ketelitian menjadi kunci penting
dalam menentukan kualitas warna suatu kain. Terkadang satu warna dengan warna
lain memiliki kekuatan atau kepekatan yang berbeda, walaupun takaran setiap
warna disamakan. Waktu pembuatan dan penyimpanan juga penting, semakin lama
prosesnya warna yang dihasilkan akan semakin bagus. Semakin tua umur kain
gringsing, akan semakin bagus kualitasnya karena warna pada kain tersebut akan
semakin pekat dan teksturnya akan semakin berubah.





D.    Proses
Menenun


Proses menenun
adalah tahap terakhir dalam pembuatan kain gringsing. Mengingat teknik yang
digunakan adalah double ikat, maka dalam kegiatan menenun akan lebih sukar dan
membutuhkan waktu lama. Alat yang digunakan untuk menenun adalah cagcag. Cagcag
adalah alat menenun yang sudah mendapatkan pengaruh dari Jepang. Sebelum adanya
alat ini, penduduk asli Desa Tenganan menggunakan dua buah bambu yang
ditegakkan untuk pembuatan kain.

















                      (Gb.9.Cagcag)












  


(Gb.10. Kain
Gringsing)





            Kain
gringsing tidak boleh terlalu sering dicuci. Kain ini hanya bisa dicuci dengan
air hujan atau air biasa agar warna dari kain tidak rusak. Atau bisa
menggunakan buah lerek sebagai bahan untuk membersihkan.





E.     Kesimpulan

























































































































































































































































































































































Desa Tenganan
Pegringsingan adalah salah satu desa tradisional (Bali Aga) yang ada di Bali.
Salah satu kerajinan yang menjadi salah satu icon penting di desa ini adalah kain gringsing yang menjadi pakaian
adat mereka dalam setiap kegiatan upacara adat. Kain ini berasal dari dua kata,
yaitu
gring yang berarti sakit dan sing artinya tidak. Jadi, secara keseluruhan artinya tidak sakit,
secara filosofi dari nama tersebut terkandung kepercayaan atau keyakinan bahwa
mereka akan mendapatkan perlindungan dan terhindar dari penyakit (penolak
bala). Adapun warna dari kain gringsing, yaitu putih kekuningan, hitam atau
biru (indigo) dan merah. Ketiga warna ini juga memiliki makna filosofi, yaitu
Trimurti terkait keseimbangan (penciptaan, pemeliharaan dan peleburan). Bahan
pewarna dari kain gringsing berasal dari warna alami, seperti warna putih
kekuningan berasal dari campuran minyak kemiri dan air abu yang berfungsing
tidak hanya sebagai pewarna tetapi juga sebagai pelengket warna lain.
Selanjutnya adalah warna hitam atau biru (indigo) berasal dari daun taum yang
direbus dan yang terakhir adalah warna merah yang berasal dari kulit akar
mengkudu yang dihaluskan menjadi tepung. Proses pewarnaan membutuhkan waktu
yang lama, dimulai dari tahap pembuatan bahan, perendaman, pengeringan dan
penyimpanan. Teknik pembuatan kain gringsing menggunakan teknik double ikat
(sistem ikat ganda), dimana dalam pembuatan motif dan warna bagian panjang dan
lebar dilakukan secara terpisah dan dengan ukuran yang sesuai agar saat kedua jenis
benang disatukan bisa seimbang. Proses terakhir dari pembuatan kain ini adalah
penenunan menggunakan cagcag.

Post a Comment for "Kajian Etnografi Pembuatan Kain Gringsing Desa Tenganan Pegringsingan"