TEKNOLOGI DAN PROSES PEMBUATAN GERABAH OLEH MASYARAKAT BANJAR BASANGTAMIANG
(Kajian Etnografi Pembuatan
Gerabah di Banjar Basangtamiang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi,
Kabupaten Badung, Bali)
Mochamad Irfan
1401405035
Pendahuluan
Perkembangan pembuatan gerabah di Bali
hingga saat ini sudah banyak kita jumpai di berbagai daerah, misalnya
seperti di daerah Tabanan, Gianyar,
Klungkung, Badung dan lain sebagainya. Salah satunya adalah daerah
penghasil gerabah di Bali adalah desa Kapal. Kapal adalah desa di Kecamatan
Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Lokasi desa Kapal sekitar 15 km dari Kota
Denpasar. Luasnya adalah 5,2 km². Pada jalur utama lintasan Desa Kapal di
setiap depan pekarangan rumah terdapat toko atau warung yang menjual berbagai
produk kerajinan yang terbuat dari tanah liat (gerabah). Produk gerabah yang
dipasarkan di desa Kapal ini dapat dilihat dari fungsinya selain sebagai sarana
upacara agama dapat juga sebagai sarana keperluan sehari-hari. Perdagangan
produk gerabah di desa Kapal ini ditunjang oleh adanya pembuatan kerajinan
gerabah di desa tersebut yang berlokasi di Banjar Basangtamiang.
Penulis
tertarik untuk meneliti dan mengkaji terkait
teknologi dan proses pembuatan gerabah yang berada di desa Kapal tepatnya di Banjar Adat
Basangtamiang dengan menggunakan studi etnografi. Maka dari itu, penulis
tertarik dikarenakan pembuatan gerabah tersebut masih menggunakan teknologi
yang masih tergolong sangat sederhana (tradisional) serta gerabahnya mempunyai
ciri khasnya tersendiri dan perajinnya pun lebih didominasi oleh kaum
perempuan.
Pembahasan
Pengertian
gerabah sendiri merupakan keramik yang terbuat dari bahan tanah liat dengan
suhu pembakaran yang tergolong rendah, yang bersifat menyerap, keras, rapuh,
berpori dan mudah pecah yang dibakar pada suhu 800 hingga 1000 derajat celcius.
Kerajinan gerabah atau keramik tradisional yang dibuat oleh warga banjar Basangtamiang
menggunakan bahan dasar tanah liat (lempung) yang dicampur dengan
campuran batu padas (di bali disebut batu paras). Tanah liat yang digunakan
oleh para perajin desa Adat Banjar Basangtamiang adalah tanah liat yang di datangkan
dari luar desa mereka. Pembuatan gerabah ini bagi masyarakat desa Adat Banjar Basangtamiang
adalah untuk menopang keadaan ekonomi keluarga dan untuk memenuhi kebutuhan
upacara adat, karena itu pembuatan gerabah dikerjakan secara gotong
royong bersama dengan anggota keluarga. Kekhasan pembuatan
gerabah di tempat ini dibandingkan dengan gerabah luar adalah
tampilannya netral, tanpa finishing, lebih tebal, berwarna merah bata dan tidak
berglasir permukaannya sehingga berwarna merah atau hitam sesuai dengan warna
asli tanah liat yang terkena pembakaran. Beberapa hasil pembuatan gerabah di
desa ini baik berupa sarana upacara maupun keperluan sehari-hari sebagai
berikut seperti kendi, periuk, caratan, sesenden, jempere, coblong, celengan, kap
lampu, pot bunga, asbak dan lain sebagainya. Pembuatan gerabah
telah menjadi tradisi di banjar tersebut
yang diwarisi secara turun temurun. Adanya kerajinan gerabah di tempat ini
terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat dan pembuatan gerabah ini tidak
pernah berhenti hingga sekarang. Selain itu pembuatan gerabah di Banjar Basangtamiang
ini lebih didominasi oleh kaum perempuan. Uniknya pembuatan gerabah ini hanya
boleh dilakukan di desa Banjar Adat Basangtamiang saja.
I.
Teknologi
Pembuatan Gerabah
Kegiatan pembuatan
gerabah ini merupakan aktivitas sebagian besar penduduk wanita banjar Basangtamiang
tersebut yang diwarisi oleh nenek moyang mereka terdahulu secara turun temurun.
Teknologi dalam pembuatan gerabah di tempat ini masih sangat sederhana atau tradisional
seperti alat yang digunakan masih dengan cara yang manual tanpa tenaga mesin
(listrik), alat tersebut bernama (pemubutan).
Teknologi alat putar yang dipakai untuk membuat gerabah tersebut dibuat atau
dirakit sendiri oleh masyarakat Banjar Basangtamiang yang mengandalkan sumber
daya yang ada di lingkungan mereka. Alat putarnya terbuat dari kayu (talenan) yang berbentuk bulat
atau melingkar yang tersusun dari 2 lapisan kayu.
Kemudian terdapat kayu dibawahnya dan 2 laher sebagai pemutar
agar alat dapat berputar dengan baik. Selain itu terdapat juga tali yang
mengait alat putar tersebut dan ditalinya terdapat bongkahan kayu untuk
menopang atau sebagai pijakan kaki untuk mendorong agar alat putarnya dapat
berputar.
II.
Proses
Pembuatan
Teknik
pembentukan gerabah di Banjar Basangtamiang ini yang diterapkan oleh perajin
atau si pembuatnya adalah menggunakan teknik putar (kick wheel) dengan alat putar yang masih tradisional dengan masih
mengandalkan tenaga gerak kaki. Berikut salah satu proses pembuatan gerabah adalah sebagai berikut. Pertama-tama
perajin telah menyiapkan alat dan bahan seperti tanah liat yang dicampur dengan
batu padas (di bali disebut batu paras), air, benang. Alat putar,
dan kayu panjang untuk meletakkan hasil gerabah yang siap untuk dijemur. Selanjutnya,
tanah liat diambil secukupnya dengan tangan dan di letakkan ditengah-tengah
alat putar yang beralaskan tatakan kayu (talenan) yang berbentuk bulat. Bahan tanah liat yang sudah siap
pakai diuleni terlebih dahulu agar tidak terdapat udara yang masuk.
Si perajin membasahi kedua tangan dan tanah liat dengan air secukupnya secara perlahan agar
tanah liat tersebut menjadi lembut dan mudah untuk dibentuk. Kemudian,
tanah liat tersebut dibentuk sambil memutar alat
putar dengan menggunakan tenaga gerak kaki. Perajin menempatkan tangan
kanan pada bagian atas tanah liatnya dan tangan kiri sedikit dibawah, lalu menekan
kearah tengah hingga tanah liat memusat dengan tepat. Salah satu ibu jari dimasukkan
tepat di tengah untuk mulai membuka tanah liat. Untuk membuat dindingnya kedua ibu jari ikut
dimasukkan. Untuk mengontrol bentuk dinding gerabah dengan cara menjepit
dinding gerabah menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk memperoleh
bentuk dinding yang sempurna. Setelah mendapat bentuk yang diinginkan, perajin memotong
atau melepaskan dasar gerabah tadi yang menempel pada tatakan alat putar
menggunakan benang.
III. Proses
Pengeringan
![]() |
Proses pengeringan
atau penjemuran ini dapat dilakukan dengan panas matahari atau tanpa panas
matahari. Proses ini berlangsung sekitar 4 jam. Pengeringan gerabah ini
dilakukan sehari setelah proses pembuatan selesai. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang
terdapat di dalamnya. Setelah tahap ini selesai, tahap selanjutnya yaitu proses
pembakaran.
IV.
Proses Pembakaran
Proses selanjutnya adalah pembakaran
pada gerabah yang dilakukan dengan tungku bak pembakaran. Pembakaran gerabah proses terakhir
pembuatan gerabah adalah pembakaran
Pelaksanaan
pembakaran memanfaatkan bahan bakar berupa sekam maupun serabut kelapa.
Tahapan dalam pembakaran adalah (1) gerabah disusun dengan rapi saling tumpang
memenuhi lubang pembakaran. (2) Selanjutnya dimasukkan sekam ke dalam
lubang di bagian kiri dan kanan hingga merata. Sekam dimasukkan hingga ke dalam
dengan bantuan alat semacam garuk panjang. (3) Lubang bagian kiri dan kanan
setelah dianggap cukup maka di beri api dan selanjutnya ditutup dengan penutup
seng bekas drum besar yang berdiameter + 60 cm. (4) Untuk memperoleh panas yang
baik lubang yang telah ditutup sekelilingnya ditutup kembali dengan sisa sisa
sekam yang telah terbakar. (5) Selanjutnya pembakaran ditunggu hingga dianggap
gerabah telah terbakar dengan baik. Kegiatan ini memakan waktu hampir setengah
hari. Benda-benda yang akan dibakar disusun di atas lantai, ukuran besar
diletakkan di bawah dan ukuran kecil disusun pada bagian atas.
Simpulan
Daerah ini sampai sekarang merupakan pusat
pembuatan gerabah yang masih aktif dan tergolong besar dalam hal memproduksi
gerabah, karena berdasarkan informasi melalui para perajin yang bekerja disana,
produk gerabah yang dihasilkan dipasarkan ke seluruh bali seperti buleleng,
karangasem dan ada juga yang memesan dari luar bali seperti sulawesi,
kalimantan dan lombok untuk memenuhi kebutuhan sarana upacara adat maupun
keperluan sehari-hari.Adanya kerajinan gerabah di tempat ini terkait dengan
kepercayaan masyarakat setempat dan pembuatan gerabah ini tidak pernah berhenti
hingga sekarang. Selain itu pembuatan gerabah di Banjar Basangtamiang ini lebih
didominasi oleh kaum perempuan. Uniknya pembuatan gerabah ini hanya boleh
dilakukan di desa Banjar Adat Basangtamiang saja. Pembuatan gerabah tersebut
masih menggunakan teknologi yang masih tergolong sangat sederhana (tradisional)
tanpa tenaga mesin (listrik).
SUMBER
Data penelitian ini diperoleh dari
beberapa narasumber pengrajin gerabah yang merupakan masyarakat Banjar
Basangtamiang, Kapal yaitu :
1. Ibu Andika
2.
Bapak Agus Adi Putra



Post a Comment for "TEKNOLOGI DAN PROSES PEMBUATAN GERABAH OLEH MASYARAKAT BANJAR BASANGTAMIANG"
Post a Comment